Sholat Jum’at wajib atas setiap muslim lelaki, merdeka, dewasa, berakal, sehat dan mustauthin dengan berjamaah dalam negeri/ benua. Sejak zaman Nabi dan Khulafaurrasyidin sholat jum’at dalam negeri/benua/dusun hanya disatu tempat jum’atan (tidak berbilang jum’at) guna lebih menampakkan syiar kesatuan ummat dan kesatuan kalimah islam, namun setelah zaman dan negeri/benua berkembang dengan banyaknya jumlah penduduk sehingga terasa sulitnya menyatukan jum’atan di satu tempat dan dipandang bermanfaat didirikann tempat jum’atan sesuai batasan ukuran hajat ummat, maka lahirlah fatwa ulama yang membolehkan ta’addud (berbilang) jum’at sesuai ukuran kebutuhan dan kesulitan menyatukannya.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوۡمِ ٱلۡجُمُعَةِ فَٱسۡعَوۡاْ إِلَىٰ ذِكۡرِ ٱللَّهِ وَذَرُواْ ٱلۡبَيۡعَۚ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jum’at maka bersegeralah kamun kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS. Jumu’ah Ayat 9).
الجمعة حق واجب على كل مسلم فى جماعة الا اربعة : عبدا مملوكا اوامرأة او صبيا او مريضا
Artinya: Jum’at itu hak yang wajib atas setiap orang Islam dalam berjamaah kecuali empat yang tidak wajib yaitu budak sahaya, wanita, anak-anak belum dewasa, dan orang sakit. (H. Hasan riwayat Abu Daud dan Al Hakim dari Thariq bin Syihab).
لينتهين اقوام عن ودعهم الجمعات اوليختمن الله على قلوبهم ثم ليكونن من الغافلين
Artinya: Sungguh-sungguh kaum-kaum yang meninggalkan kewajiban jum’at supaya mau menghentikannya ataukah sungguh-sungguh pula Allah akan memateri hati mereka sehingga mereka menjadi termasuk kaum yang lalai. (H.S.R. Ahmad, Muslim, Annasai dan Ibnu Majah dari Ibnu Abas dan Ibnu Umar).
لانه صلى الله عليه و سلم والخلفاء الراشدين لم يقيمواسوى جمعة واحدة ولان الاقتصار على واحدة افضى الى اظهار شعارالاجتماع واتفاق الكلمة، الا اذا عسراجتماعهم بمكان كأن يكون اهل البلد نصفين بينهما دم او يكونوا كثيرين ولم يكن فى محل الجمعة موضعهم يسعهم بلا مشقة ولوغير مسجد فيجوز التعدد حينئذ للحاجة بحسبها
Artinya: Karena sesungguhnya Nabi Muhamad SAW dan Khulafaurrasyidin tidak pernah mendirikan jum’atan selain satu tempat karena lebih menampakkan syiar jamaah/ kesatuan ummat dan kesatuan kalimah islam, (sebab itu tidak boleh ta’addud/berbilang jum’at) kecuali apabila sukarnya jamaah berhimpun di satu tempat jum’atan atau karena penduduk negeri terbagi dua golongan yang bisa menumpahkan darah bila bertemu atau karena banyaknya penduduk negeri sedangkan tempat jum’atan tidak mampu menampungnya walaupun bukan masjid, maka ketika harus (boleh) ta’addud (berbilang) jum’atan sesuai ukuran kebutuhannya. (Kitab Bajuri I/213).
ومن ذلك قول الائمة الاربعة : انه لا يجوز تعدد الجمعة فى البلد الا اذا كثروا وعسر اجتماعهم فى مكان واحد
Artinya: Dan untuk itu terdapat qaul Imam yang empat bahwa sesungguhnya tidak boleh ta’addud (berbilang) jum’at dalam satu negeri kecuali apabila penduduknya banyak, dan sukar berhimpun di satu tempat. (Kitab Mizanul Kobro I/209).
ان لا يسبقها بتحرم ولايقارنها فيه جمعة بمحلها الا ان كثر اهلها وعسر اجتماعهم بمكان واحد فيجوز تعددها للحاجة بحسبها
Artinya: Bahwa tidak didahului dan tidak disertai takbiraulihramnya oleh jum’at yang lain ditempatnya kecuali apabila banyak penduduknya dan sukar berhimpun di satu tempat maka boleh ta’addudnya sesuai ukuran kebutuhan. (Kitab Fat hul wahab halaman 74).
وقد رجح الكثير منهم او اكثرهم الرأى الاول وهو جواز التعدد للحاجة بقدرها واعتمدوا هذاالرأى
Artinya: Dan sesungguhnya terbanyakm para ulama telah mentarjih bahwa boleh ta’addud (berbilang) jum’at karena hajat sesuai ukuran kebutuhannya dan mereka berpegang pada pendapat ini. (Kitab Tanwirulqulub 191).
والحاصل من كلام الائمة ان اسباب جواز تعددها ثلاثة : ضيق محل الصلاة بحيث لا يسع المجتمعين لها غالبا، او القتال بين الفئتين بشرطه، وبعد اطراف البلد بأن كان بمحل لايسمع منه النداء
Artinya: Dan kesimpulan dari perkataan para Imam bahwa sebab yang membolehkan ta’addud (berbilang) jum’at (tiga) macam yaitu :
- sempitnya tenpat sholat yang ada sekira tidak dapat menampung kamaah pada umumnya.
- atau terjadinya permusuhan antar dua kelompok yang bisa berperang bila ketemu.
- dan karena tempatnya saling berjauhan sehingga adzan masing-masing tempat tidak terdengar.
(Kitab Bughyatulmustarsyidin halaman 79)
Bahsulmasaail hari Sabtu 19 Jumadil Awal 1413 H/ 14 Nopember 1992 M
Samarinda tgl. 8 Januari 1993
MAJELIS ULAMA INDONESIA
DAERAH TK. I KALIMANTAN TIMUR
Ketua Umum Ketua Komisi Fatwa
K.H. SABRANITY K.H. SAAD IJAN SALEH, BA
