1. Hewan yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah (baik yang disebut itu nama patung, berhala, jin dan makhluk lainnya) adalah haram dengan ijma’, Alquran dan hadits Nabi SAW menyebutkan :

وَمَآ أُهِلَّ لِغَيۡرِ ٱللَّهِ بِهِۦ

Artinya: Dan (diharamkan pula bagimu) apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah. (QS. Al-Maidah ayat 3 dan S. An-Nahl ayat 115).

 

وَمَا ذُبِحَ عَلَى ٱلنُّصُبِ

 

Artinya: Dan (diharamkan pula bagimu) apa yang disembelih atas nama berhala. (QS. Al-Maidah ayat 3).

وملعون من ذبح لغير الله

Artinya: Dan terkutuk orang yang menyembelih hewan dengan menyebut nama selain Allah. (H. Hasan riwayat Al-Ismaily, Ibnu Asakir dan Ahmad dari Ibnu Abas).

 

  1. Penyembelihan hewan untuk jin atau ditempat/tiang yang dipandang keramat hukumnya tergantung menurut qasadnya/niatnya/motivasinya :

 

عن طارق ابن شهاب ان رسول الله صلى الله عليه و سلم قال دخل الجنة رجل فى ذباب ودخل النار رجل فى ذباب قالوا كيف ذلك يارسول الله ؟ قال مر رجلان على قوم لهم صنم لايجوزه احدا حتى يقرب له شيئا فقالوا لاحدهما : قرب، قال ليس عندى ما اقرب، قالوا له : قرب ولو ذبابا فقرب ذبابا فخلواسبيله فدخل النار، وقالوا للاخر : قرب، فقال ما كنت لأقرب لأحد شيئا دون الله، فضربوا عنقه فدخل الجنة

 

Artinya: Dari Tharik bin Syihab bahwa Rasulullah SAW bersabda: Seseorang bisa masuk syurga dan neraka karena seekor lalat. Lalu para sahabat bertanya: Betapa yang demikian itu bisa terjadi ya Rasulullah? Rasul menjawab: Dua orang lelaki berjalan melalui sekelompok kaum yang mempunyai patung berhala dan tidak boleh seorangpun melewatinya sebelum mempersembahkan sesuatu sebagai korban untuknya. Mereka berkata kepada salah satu dari dua lelaki itu: Korbankanlah sesuatu untuknya, lelakin itu menjawab: Aku tidak memiliki apa-apa untuk dikorbankan. Mereka berkata lagi kepadanya: Korbankanlah untuknyan walaupun hanya seekor lalat, lalu lelaki itu mengorbankan seekor lalat untuk berhala itu, maka lelaki itupun  mereka biarkan melaluinya, maka oleh karena itu lalaki itu bisa masuk neraka. Dan mereka berkata pula kepada lelaki temannya itu: Korbankanlah!, ia menjawab: Saya tidak akan mengorbankan sesuatu melainkan hanya kepada Allah saja. Maka mereka bunuh lelaki itu, sehingga oleh karenanya lelaki itu bisa masuk syurga. (H. Riwayat Ahmad).

من ذبح تقربا لله تعالى لدفع شر الجن عنه لم يحرم او بقصدهم حرم

Artinya: Barangsiapa menyembelih dengan qashad/ niat taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah serta do’a kepada Allah untuk menolak kejahatan jin daripadanya, hukumnya tidaklah haram. Atau dengan qashad/ niat taqarrub kepada jin, hukumnya menjadi haram. (Fatwa Ulama dalam Kitab I’aanatuththalibin II/349).

 

ثم الذبح على مثل هذه الحالة يتنوع الى ثلاثة امور : اما ان يقصدبه التقريب الى ربه ولم يشرك معه احدامن الخلق طامعا فى رضاه وقربه وهذاحسن لا بأس به، و اما ان يقصدبه التقرب لغير الله تعالى كما يتقرب اليه معظماله كتعظيم الله كالذبح المذكور بتقديركونه شيئا يتقرب اليه ويعول فى زوال الذيم عليه، فهذا كفر والذى بيحة ميتة.  واما ان لايقصد ذا و لا ذا بل يذبحه على نحوالطوع معتقدا ان ذلك الذبح على تلك الكيفية مزيل للمانع المذكور من غير اعتقاد امر اخر، فهذا ليس بكفر ولكنه حرام والمذبوح ميتة ايضا. وهذا هو الذى يظهر من حال العوام كما عرف بالاستقرا ءمن افعالهم كما حقق هذه الصورالثلاث ابو مخرمة فيمن بذبح للجن

Artinya: Kemudian penyembelihan seperti contoh ini (penyembelihan di tempat tiang/tugu) yang dipandang keramat oleh masyarakat di Hadramaut) bisa menjadi 3 (tiga) macam hukumnya:

  1. Ada diantaranya qashad/niat/motivasinya tetap hanya taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah semata dan tidak berbuat syirik, hanya mengharapkan ridho Allah saja, ini baik tidak ada salahnya.
  2. Ada juga yang qashad/niat/motivasinya taqarrub (pendekatan) diri kepada yang bukan Allah serta pendekatannya itu dan mengagungkannya seperti mengagungkan Allah seperti yang dilakukan masyarakat di Hadramaut dengan cara dan kaifiat tertentu dengan tujuan untuk menghilangkan segala macam halangan. Cara yang kedua ini adalah kufur dan hewan sembelihannya hukumnya bangkai.
  3. Ada pula yang tidak qashad/niat/motivasinya taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah dan kepada selain Allah, tetapi penyembelihannya ditempat/tiang/tugu tersebut dengan i’tikad menuruti aturan yang sudah ditetapkan di tempat itu, tanpa adanya i’tikad yang lain. Cara yang ketiga ini tidak kafir, tetapi tetap haram hukumnya dan hewan yang disembelih hukumnya bangkai juga. Hal semacam inilah yang nampak terjadi dilakukan oleh orang awam sebagaimana bisa diketahui penetapannya melalui amal perbuatan mereka.

 

Sebagaimana Abu Makhramah mentahkikan bahwa ketiga macam hukum penyemblihan tersebut juga berlaku pada orang yang melakukan penyembelihan untuk jin. (Kitab Bughyatulmustarsyidin halaman 256).

 

  1. Untuk memelihara kesucian tauhid dan kebenaran qashad/ niat dan motivasi seseorang jangan sampai terjatuh pada perbuatan syirik, maka sebaiknya penyembelihan hewan untuk jin dijauhi:

نهى عن ذبائح الجن

Artinya: Rasullah SAW melarang penyembelihan untuk jin. (H.Mursal.R.Baihaki dari Azzuhri).

 

Bahsulmasaail hari Sabtu 3 Agustus 1996M/ 18 R. Awal 1417 M

 

Samarinda tgl. 16 Agustus 1996/ 2 R.Akhir 1417H

 

MAJELIS ULAMA INDONESIA

DAERAH TK. I KALIMANTAN TIMUR

 

Ketua Umum                                                  Ketua Komisi Fatwa

 

 

 

K.H. SABRANITY                                     K.H. SAAD IJAN SALEH, BA

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *