1. Apabila seorang muslim telah meninggal dunia, disunnatkan meletakkannya mengarah ke arah kiblat yaitu:

 

Keterangan tersebut sesuai dengan fatwa Ulama yang berbunyi:

 

يسن ان يوجه من حضرته الوفاة الى القبلة بان يجعل جنبه الايمن ووجهه لها ان لم يشق ذلك و الاوضع على ظهره ورجلاه الى القبلة ولكن ترفع رأسه قليلا ليصيروجهه لها، وقال المالكية هذاالوضع مندوب لا سنة

 

membaringkannya ke lambung kanan dan mukanya ke arah kiblat, dan jika musyaqqah melakukan , demikian itu maka meletakkannya bertelentang dan kakinya ke arah kiblat serta kepalanya ditinggikan sedikit supaya mukanya menghadap kiblat. Malikiyah berkata: Cara meletakkan semacam ini sunat, bukan sunnah. (Kitab Al Fiqdu ‘Alaa Madzahibil Arbaah I/500).

 

  1. Menurut sunnah Nabi SAW bahwa sholat mayyit Imam berdiri berbetulan kepala mayyit lelaki dan dipertengahan atau punggung mayit wanita, sesuai hadits Nabi SAW yang berbunyi:

 

فقال العلاء بن زياد يا ابا حمزة : هكذا كان صلى الله عليه و سلم يصلى على الجنازة كصلاتك يكبر عليها اربعا ويقوم عند رأس الرجل وعجيزةالمرأة قال نعم

 

Artinya: Al ‘ Alaa bin Ziyad berkata: Hai Abu Hamzah (Anas) Begitukah Rasulullah SAW sholat jenazah seperti sholatmu yang bertakbir empat kali dan berdiri berbetulan kepala mayyit lelaki dan berbetulan punggung mayyit wanita. Anas menjawab: ya. (H.Hasan Sahieh Riwayat Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Muslim dari Anas).

 

ان رسول الله صلى الله عليه و سلم صلى على امرأة ما تت فى نفاسها فقام وسطها

Artinya: Bahwa Rasulullah SAW sholat jenazah atas mayyit wanita yang mati dalam nifasnya maka beliau berdiri berbetulan pada pertengahannya. (H.S.R. Ibnu Majah, Tirmidzi, Abu Daud dan  Muslim dari Samurah bin Jundub).

 

Sesuai dengan hadits tersebut maka pada umumnya dalam Kitab-Kitab Fiqih mengatakan:

 

(فائدة) سن الوقوف عند رأس الرجل وعجيزة غيره عام وان كان الميت مستورا اوفى القبر

Artinya: (Faidah) disunnatkan berdiri berbetulan kepala mayyit lelaki dan berbetulan punggunya mayyit lainnya umum dan meskipun mayyit itu tertutup atau dalam kubur. (Kitab Bughyatul Mustarsyidin halaman 94).

 

ويقف عند رأس الرجل وعجزها

Artinya: Dan berdiri berbetulan kepala mayyit lelaki dan berbetulan punggungnya mayyit wanita. (Kitab Mughnil Muhtaj halaman I/348).

 

والسنة ان يقف الامام فيها عند رأس الرجل وعند عجيزة المرأة

Artinya: Dan sunnah bahwa Imam berdiri pada sholat jenazah berbetulan kepala mayyit lelaki dan berbetulan punggungnya mayyit wanita. (Kitab Al Majmu’ V/224).

 

Berdirinya Imam atau sholat jenazah sendirian disunatkan berbetulan kepala mayyit lelaki dan berbetulan punggungnya mayyit wanita menurut Fiqih Syafi’I, Abi Yusuf dan Muhammad, sedangkan menurut:

 

(Keterangan ini terdapat dalam Kitab Rahmatul Ummah halaman 86 dan Kitab Al Fiqhu ‘Ala Madzahibil Arba’ah I/517-518).

Keterangan dalam Kitab Al Majmu’ V/224 menyebutkan bahwa yang benar menurut hadits dari Anas riwayat Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan lainnya ialah bahwa si Mushalli berdiri berbetulan kepala mayyit lelaki, sedangkan yang menyatakan berbetulan dengan dadanya terdapat kesalahan. Menurut hadits riwayat Abu Daud bahwa wanita yang mati dalam nifasnya itu ialah wanita Anshor, dan menurut riwayat Tirmidzi adalah wanita Quraisy.

 

  1. Dimana letak kepala mayyit (di kanan atau kiri Imam) tidak terdapat keterangan dalam hadits, hanya pengamalan ummat dan fatwa Ulama banyak mengatakan kepala mayyit lelaki di sebelah kiri Imam dan kepala mayyit wanita di sebelah kanan Imam.

 

عبارةالبرماوى وهى ان يجعل معظم الميت عن يمين المصلى وحينئذ يكون رأس الذكر من جهةيسار المصلى والانثى بالعكس

Artinya: ‘Ibarah Barmawy ialah bahwa menjadikan sebagian besar badan mayyit ialah di arah kanan Mushalli, dan karena itu kepala mayyit lelaki di arah kiri Mushalli dan wanita sebaliknya. (Kitab Al Jumalu ‘Alal Minhaj II/188).

 

وان يجعل رأس الذكر عن يسار الامام ويقف الامام قريبا من رأسه ورأس الانثى عن يمينه ويقف عند عجزها ومثله المنفرد

 

Artinya: Dan disunnatkan menempatkan kepala mayyit lelaki di arah kiri Imam dan Imam berdiri dekat kepala Mayyit, dan kepala mayyit wanita di arah kanan Imam dan Imam berdiri berbetulan punggungnya. Dan seperti itu pula sholatnya sendirian. (Kitab Tanwirul Qulub halaman 212).

 

Fatwa yang sama bunyinya terdapat pula dalam Kitab:

 

 

Bahsulmasaail hari Sabtu tgl. 18 Juli 1996 M/ 2 R. Awal 1417 H

 

 

Samarinda tgl. 12 Rabiul Awwal 1417 H

28 Juli 1996 M

 

MAJELIS ULAMA INDONESIA

DAERAH TK. I KALIMANTAN TIMUR

 

Ketua Umum                                                  Ketua Komisi Fatwa

 

 

 

K.H. SABRANITY                                     K.H. SAAD IJAN SALEH, BA

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *