Bagaimana hukumnya seorang perempuan yang sedang  haid  masuk ke dalam ruangan   masjid? Begitu juga bolehkah orang yang sedang nifas dan junub masuk ke dalam masjid?

 

 

 

Bagi orang junub haram masuk (berhenti) dalam masjid kecuali karena uzur, dan bagi orang haid dan nifas jika khawatir mengotorkan masjid, kecuali jika yakin aman tidak akan mengotorkannya maka hukumnya tidak haram, juga sama hukumnya bagi setiap orang yang membawa benda/barang bernajis lainnya seperti sepatu-sandal dan sebagainya.

 

وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغۡتَسِلُواْۚ

Artinya: Dan jangan (pula kamu masuk masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, kecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. (QS. Annisa Ayat 43).

 

انى لا احل المسجد لحائض ولا جنب

Artinya: Sesungguhnya aku tidak menghalalkan masjid bagi orang yang sedang haid dan  junub. (HR. Abu Daud dan di sahihkan oleh Ibnu Khuzaimah).

 

ان المسجد لا يحل لحائض ولا جنب

 

Artinya: Sesungguhnya masjid tidak halal bagi orang haid dan junub. (H.R. Ibnu Majah).

 

ويحرم على الجنب خمسةاشياء : الصلوة وقراءةالقرأن ومس المصحف والطواف واللبث فى المسجد، ويحرم بالحيض والنفاس ثمانية اشياء : الصلاة والصوم وقراءةالقرأن ومس القرأن وحمله ودخول المسجد والطواف والوطء والاستمتاع فيما بين السرة والركبة

 

Artinya: Dan haram bagi orang junub 5 macam: 1) sholat, 2) membaca Al-Quran, 3) menyentuh mushhaf, 4)thawaf, dan 5) berhenti dalam masjid.

Dan haram bagin orang haid dan nifas 8 macam yaitu: 1) sholat, 2) puasa, 3) membaca Al-Quran, 4) menyentuh Al-Quran, 5) membawa Al-Quran, 6) masuk masjid, 7) thawaf, dan 8) bersenggama dan bersenang-senang antara pusat dan lutut. (Kitab Kifayatul Akhyaar I/77-78-79).

 

فان خافت التلويث حرم بلا خلاف

Artinya: Maka jika khawatir mengotorkan masjid, haram masuk berhenti dalam masjid tanpa khilafiyah. (Kitab Kifayatul Akhyaar I/78).

 

( والخامس دخول المسجد ) للحائض ( ان خافت تلويثه ) فان لم تخف تلويثه بل امنته لم يحرم لا نها متى خافت تلويثه حرم عليها الدخول وان لم يوجد تلويث لقلةالدم والمراد بالخوف ما يشمل التوهم بل يكره لها حينئذ وهو خلاف الاولى للجنب الا لعذر فيهما فتنتغى الكراهة لها وكونه خلاف الاولى للجنب للعذر ومثلها كل ذي نجاسة فان خاف تلويث المسجد حرم و الاكره الالحاجة

Artinya: (Dan kelima haram bagi orang haid dan nifas masuk berhenti dalam masjid)(jika khawatir mengotorkannya) dan jika tidak khawatir mengotorkannya bahkan merasa yakin aman, tidaklah haram, karena bahwasanya bilamana khawatir mengotorkannya haram atasnya masuk ke dalam masjid meskipun tidak di dapat mengotorkannya karena sedikitnya darah. Dan yang dimaksud dengan khawatir ialah sesuatu yang patut diperkirakan. Tetapi tetap makruh baginya ketika itu dan orang yang haid karena sedikitnya darah dan orang yang junub karena uzur tidaklah meniadakan kemakruhannya masuk berhenti dalam masjid. Dan sama pula hukumnya setiap orang yang membawa barang/benda bernajis, maka jika khawatir mengotorkan masjid, haram hukumnya, dan jika tidak, makruh saja kecuali karena hajat. (Kitab Al Bajuri I/115).

 

Bahsulmasaail hari Sabtu tgl. 19 Jumadil Awal 1413 H/ 14 Nopember 1992 M

 

Samarinda, 5 Januari 1993

 

MAJELIS ULAMA INDONESIA

DAERAH TK. I KALIMANTAN TIMUR

 

Ketua Umum                                                  Ketua Komisi Fatwa

 

 

 

K.H. SABRANITY                                     K.H. SAAD IJAN SALEH, BA

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *