Bagaimana cara kita melakukan tayammum di dalam pesawat terbang dan kereta api, apakah boleh menggunakan debu atau tanah yang melekat pada dinding pesawat?
- Debu tanah yang ada di pesawat, kereta api, dinding gedung bangunan, kursi dan sebagainya bisa dipergunakan untuk bertayammum :
فَلَمۡ تَجِدُواْ مَآءٗ فَتَيَمَّمُواْ صَعِيدٗا طَيِّبٗا فَٱمۡسَحُواْ بِوُجُوهِكُمۡ وَأَيۡدِيكُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا
Artinya: Kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayammumlah kamu dengan tanah yang baik (suci), sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. (QS. Annisa ayat 43).
فَلَمۡ تَجِدُواْ مَآءٗ فَتَيَمَّمُواْ صَعِيدٗا طَيِّبٗا فَٱمۡسَحُواْ بِوُجُوهِكُمۡ وَأَيۡدِيكُم مِّنۡهُۚ مَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيَجۡعَلَ عَلَيۡكُم مِّنۡ حَرَجٖ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمۡ وَلِيُتِمَّ نِعۡمَتَهُۥ عَلَيۡكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ
Artinya: Kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayammumlah kamu dengan tanah yang baik (suci), sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni’mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. (QS. Al-Maidah ayat 6).
وجعلت تربتهالناطهوراإذالم نجدالماء
Artinya: Tanah dijadikan untuk kami alat bersuci (mensucikan) apabila kami tidak mendapat air. (H.S.R. Muslim dari Hudzaifah-Bulughul Maram).
فجميع ما يصدق عليه اسم التراب كاف من اي محل اخذ ولو من ظهركلب
اذالم يعلم تنجس التراب الماء خوذ منه
Artinya: Maka semua apa saja yang benar namanya debu tanah memadai (sah) dipakai bertayammum, darimana saja tempat mengambilnya dan sekalipun dari belakang anjing apabila tidak diketahui kenajisan debu tanah yang diambil tersebut daripadanya. (Kitab AlBajuri I/91).
والمراد بالتراب مايصدق عليه اسمه بأي لون كان خلقةومن اي محل اخذ كثوب
او حصير او جدار اوحنطة اوشعير اذا كان فى محل منهاغبار ولومن بدن مغلظ
اذا لم يعلم تنجس الماء خوذ فيه فيدخل فيه المحروق منه ولو اسود ما لم يصير رمادا
Artinya: Dan yang dimaksud turab (debu tanah) ialah semua apa saja yang sesuai namanya debu tanah dengan warna apa saja keadaannya dan dari mana saja diambilnya seperti pada kain, tikar, dinding, atau pada biji-bijian (gandum, beras, jagung) apabila pada tempat itu ada debunya walaupun dari badan najis mughallazhah selama tidak diketahui kenajisan yang diambil itu maka termasuk dalam tanah ini tanah yang dibakar sekalipun telah menjadi hitam selama tiddak menjadi pasir (sah dipakai untuk tayammum). (Kitab Syarqawy I/95).
قال اصحابنا يجوزأن يتيمم من غبار تراب على مخدة او ثوب او حصير اوجدار
او اداة ونحوها نص عليه فى الام وقطع به الجمهور
Artinya: Ash-hab kita Syafi’I berkata: Boleh bertayammum dengan debu tanah yang terdapat diatas bantal, kain, tikar, dinding, atau pada peralatan dan seumpamanya. Telah dinashkan hal ini oleh Imam Syafi’I dalam Kitab Al-Um dan telah diputuskan dengannya oleh Jumhur Ulama. (Kitab AlMajmu’ II/219).
- Kemudian bilamana air dan debu tanah tidak didapatkan, maka sholat fardhu tetap dikerjakan tanpa wudhu dan tanpa tayammum untuk menghormati waktu لحرمة الوقت (lihormatilwaqti). Sholat tersebut sah dalam pengertian bilamana didapatkan air/debu tanah, maka sholatnya diulang kembali, dikatakan sah karena bilamana umur habis/ ajal sampai maka sholatnya tersebut tidak dituntut lagi. Hal ini sesuai dengan fatwa Ulama yang berbunyi :
ومن ذلك قول الامام ابى حنيفةان فاقد الطهورين لايصلى حتى يجدالماء
اوالتراب مع قول الشافعى فى ارجح القولين انه يصلى ويعيد اذا وجد احدهما
Artinya: Dan tentang hal itu sampai didapat air atau debu tanah (berwudhu atau bertayammum) dan menurut qaul Imam Syafi’I yang lebih kuat dari dua qaulnya ialah bahwa tetap dilaksanakan sholat dan sholat itu diulang kembali apabila mendapatkan air atau debu tanah. (Kitab AlMizanulKubro I/135).
(تتمة) على فاقد الطهورين وهما الماء والتراب ان يصلى الفرض لحرمة الوقت
ويعيده اذا وجد احدهما
Artinya: (catatan kesempurnaan) tentang keadaan tidak adanya kedua macam alat bersuci yaitu air dan debu tanah, bahwa tetap sholat fardhu dilakukan untuk kehormatan waktu (lihortilwaqti) dan apabila air atau debu tanah didapat sholatnya wajib diulang kembali. (Kitab AlBajuri I/102).
Bahsulmasaail hari Sabtu tanggal 19 Jumadil Awal 1413 H/ 14 Nopember 1992 M
Samarinda, 2 januari 1993
MUI DATI I KALIMANTAN TIMUR
Ketua Umum Ketua Komisi Fatwa,
K.H. SABRANITY K.H. SAAD IJAN SALEH, BA
