RINGKASAN CERAMAH

 

MEMAKNAI ULANG REZEKI DAN AMALAN PERCEPATANNYA

 

Oleh : Farah Laa Ghibah, B.A., M.A

 

Ikatan Cendekiawan Muslim Muda

Majelis Ulama Indonesia Kalimantan Timur

 

Disiarkan oleh Pro 1 RRI Samarinda dalam program Mutiara Pagi

 

 

  1. Memahami Perbedaan Harta dan Rezeki

 

Seringkali kita menyamakan antara harta dan rezeki. Namun, apakah rezeki dan harta itu sama?

  1. Menurut Al-Qur’an, keduanya tidak sama. Harta dan rezeki sesungguhnya tidaklah sama.
  2. Harta Dunia: Allah telah menyiapkan beragam harta dunia untuk manusia. Ayat-ayat Al-Qur’an, seperti Surah Al-An’am ayat 141, menggambarkan hasil bumi yang Allah siapkan untuk konsumsi dan kebutuhan harian kita. Lebih lengkap, Surah Ali Imran ayat 14 menyebutkan hal-hal yang dijadikan indah pada pandangan manusia dan menjadi kesenangan hidup di dunia, seperti:
    • Wanita-wanita dan anak-anak.
    • Harta yang banyak dari emas dan perak.
    • Kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang.
    • Ini semua adalah keragaman harta, kekayaan, aset, dan keluarga yang menjadi ujian bagi manusia.
  3. Harta yang Bukan Rezeki: Tidak semua harta dunia itu menjadi rezeki.
    • Jika harta (seperti emas dan perak) tidak digunakan di jalan Allah, tidak disyukuri untuk kebaikan, dan malah disimpan (tidak dinafkahkan di jalan Allah), maka hal itu dapat mengundang azab yang pedih.
    • Jika mengundang azab Allah, berarti itu hanyalah harta dan belum menjadi rezeki. Jika itu rezeki, pasti tidak mengundang azab-Nya.
  4. Rezeki Sejati: Kata rezeki pertama kali muncul dalam Surah Al-Baqarah ayat 25. Ayat ini memberikan kabar gembira kepada orang yang beriman dan beramal saleh bahwa bagi mereka adalah surga, dan di sanalah Allah berikan rezeki.
    • Rezeki yang paling nyata, paling tinggi, yang harus kita kejar, dan harus kita usahakan bahkan setelah kehidupan dunia, adalah surga.
    • Rezeki tidak sama dengan harta. Tidak semua harta menjadi rezeki, dan tidak semua rezeki bentuknya selalu harta.

 

Kita harus berupaya mempersiapkan harta di dunia karena itu adalah kebutuhan, tetapi yang lebih penting adalah memastikan apakah harta yang kita kumpulkan mati-matian itu adalah rezeki yang mendekatkan kita kepada surga, atau justru mendatangkan azab-Nya.

 

  1. Amalan Pembuka Percepatan Rezeki

 

Bagaimana agar harta dunia menjadi rezeki, dan bagaimana percepatan kita sebagai seorang Muslim untuk mendapatkan rezeki yang Allah janjikan? Ada amalan-amalan pembuka percepatan rezeki yang setidaknya memberikan kita ketenangan dan mendekatkan kita kepada surga. Amalan-amalan tersebut disingkat TDST:

 

  1. T – Tahajud (Ibadah Tambahan)

Tahajud sungguh menjadi pembuka pintu keberkahan dan rezeki.

 

  1. D – Duha (Mengundang Kecukupan)

Salat Duha dianalogikan seperti dipanggil oleh bos di tengah kesibukan. Meluangkan waktu untuk Allah di saat sibuk adalah bentuk ‘caper’ (cari perhatian) kepada Allah.

 

  1. S – Sedekah (Pengganti Rezeki Terbaik)

Sedekah adalah amalan percepatan rezeki.

 

  1. T – Tilawah (Sumber Ketenangan dan Berkah)

Membaca Al-Qur’an (Tilawah) adalah sumber ketenteraman dan keberkahan.

 

 

Istigfar adalah amalan lain yang bisa menjadi pembuka rezeki dari segala kebutuhan.

 

  1. Kesimpulan

 

  1. Maknai Ulang Rezeki: Harta belum tentu rezeki, dan rezeki bentuknya tidak hanya harta. Pastikan harta yang diusahakan menjadi rezeki yang mendekatkan kita kepada surga dan menjauhkan dari azab-Nya.
  2. Amalkan TDST: Usahakan amalan-amalan pembuka percepatan rezeki, yaitu Tahajud, Duha, Sedekah, dan Tilawah.
  3. Yakin dan Berharap Hanya pada Allah: Lakukan amalan ini dengan keyakinan dan kepercayaan. Jangan pernah berharap dari selain Allah, karena yang akan didapatkan hanyalah kekecewaan dan kesempitan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *